Kegelisahan yang Menjadi Panggilan

Financial Wisdom Academy berawal dari satu pertanyaan sederhana yang terus mengganggu pikiran

  • Mengapa begitu banyak orang yang bekerja keras seumur hidup, dengan posisi lumayan, tetapi tetap merasa berat saat menjelang pensiun dan khawatir akan masa depannya? 
  • Mengapa banyak para pensiunan, uangnya hanya bertahan beberapa tahun dan akhirnya menggantungkan hidupnya pada anak anaknya?
  • Mengapa banyak pengusaha atau pekerja bebas (self-employee) yang menjadi “bekas kaya”?

Saat membaca berita, kita dihadapkan pada fakta mengejutkan

  • Banyak pensiunan yang tidak siap pensiun (90% pekerja tidak siap menghadapi masa pensiun)
  • Banyak pensiunan yang menghabiskan uang pensiunnya di 5-10 tahun pertama masa pensiunnya
  • Hanya 30% orang Indonesia yang memiliki tabungan untuk masa pensiun.
  • Rata-rata 50% lebih lansia bergantung secara finansial pada anak/kerabat.
  • ASN pun kurang siap: Hanya sekitar 28% ASN yang dinilai siap pensiun.

Idayanti Sudiro, yang akrab disapa Okky, mendengar dan melihat langsung kisah-kisah tak tertulis, baik dari lingkaran keluarga maupun teman-temannya. Seorang karyawan yang puluhan tahun disiplin bekerja, namun menjelang pensiun justru dipenuhi kecemasan. Seorang pensiunan dengan jabatan terakhir sebagai direktur sebuah bank menerima uang pensiun sekaligus (lump sum),namun dalam beberapa tahun harus kembali bergantung pada anak karena uangnya habis lebih cepat dari yang dibayangkan.

Banyak orang mengira itu soal kurang hemat. Padahal kenyataannya lebih dalam dari itu. Ada keputusan emosional, tekanan keluarga, budaya konsumtif, hingga kurangnya pemahaman tentang cara mengelola uang dalam jangka panjang. Uang pensiun yang seharusnya menjadi simbol kebebasan justru berubah menjadi sumber stres baru.

Di sisi lain, ada generasi yang sedang berada di tengah himpitan. Mereka membiayai sekolah anak, membantu orang tua, mencicil rumah, dan tetap dituntut tampil kuat setiap hari. Mereka adalah sandwich generation. Dari luar terlihat mapan, tetapi di dalam sering merasa lelah, cemas, bahkan kesepian. Waktu untuk diri sendiri hampir tidak ada. Masa depan terasa kabur karena hari ini saja sudah begitu berat.

Okky juga menyadari satu hal besar yang sedang terjadi di Indonesia. Kita sedang menikmati bonus demografi. Jumlah usia produktif sangat besar. Namun tanpa kesiapan mental dan finansial, keunggulan ini bisa berubah menjadi masalah sosial yang serius. Jika banyak orang tidak siap secara ekonomi, maka tekanan itu bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga masyarakat luas dan menjadi beban negara.

Semua kegelisahan itu akhirnya bermuara pada satu kesimpulan: masalah keuangan bukan hanya tentang angka. Ia tentang pola pikir, tentang luka masa lalu, tentang emosi dan tentang cara seseorang memandang dirinya serta masa depannya. Semua hal ini mempengaruhi cara orang mengelola dan menggunakan uang dan hartanya.

Dari situlah Financial Wisdom Academy lahir.

FWA dibangun bukan sekadar untuk mengajarkan cara menabung atau berinvestasi dan menjadi kaya. FWA hadir untuk membantu orang mengenal dirinya secara utuh. Karena ketika seseorang memahami nilai hidupnya, tujuan jangka panjangnya, dan pola emosinya terhadap uang, barulah perubahan nyata bisa terjadi. FWA adalah sebuah perjalanan kesejahteraan lahir dan batin 

Misi FWA adalah membantu masyarakat Indonesia, khususnya kalangan berpenghasilan menengah atas, membangun pondasi keuangan yang sehat dan berkelanjutan. Bukan hanya agar cukup, tetapi agar layak. Bukan hanya agar kaya secara materi, tetapi juga tenang secara batin.

Kami percaya setiap orang berhak memasuki masa pensiun dengan kepala tegak, bukan dengan rasa takut. Setiap orang berhak bekerja tanpa terus dihantui kecemasan finansial. Dan setiap keluarga berhak memiliki masa depan yang lebih pasti.

Financial Wisdom Academy adalah tentang PERUBAHAN/TRANSFORMASI. Perubahan cara berpikir. Perubahan cara mengelola uang. Dan pada akhirnya, perubahan cara menjalani dan menikmati hidup, yang produktif sekaligus berkontribusi positif pada lingkungan sekitarnya.

Karena kesejahteraan sejati bukan hanya soal seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa damai hati ketika menjalaninya.

FWA – Teman Seperjalanan Menuju Kesejahteraan